Camping Kalcer Beri Wajah Baru bagi Watu Payung: Budaya, Alam, dan Wellness Bertemu di Sambirejo

10 September 2026
RESTU HAYYU KHOIRUNNISA
Dibaca 1 Kali
Camping Kalcer Beri Wajah Baru bagi Watu Payung: Budaya, Alam, dan Wellness Bertemu di Sambirejo

SAMBIREJO, September 2026 — Camping biasanya identik dengan tenda, api unggun, dan waktu bermalam di tengah alam. Namun, pengalaman tersebut dikemas dengan cara berbeda dalam Camping Kalcer yang digelar di kawasan Watu Payung, Kalurahan Sambirejo. Tidak hanya mengajak peserta menikmati suasana alam, kegiatan ini mempertemukan budaya lokal, pengalaman wellness, musik, dan ruang kebersamaan dalam satu rangkaian kegiatan.

Kegiatan yang menjadi bagian dari program pemberdayaan masyarakat oleh PPK Ormawa EDSA PBI Universitas Muhammadiyah Yogyakarta ini menghadirkan pengalaman camping yang berbeda. Wisatawan tidak hanya diajak menikmati suasana alam Watu Payung, tetapi juga terlibat dalam berbagai aktivitas yang mempertemukan potensi budaya lokal dengan pengalaman wisata yang lebih dekat dengan generasi muda.

Camping Kalcer menjadi salah satu upaya PPK Ormawa EDSA PBI UMY bersama masyarakat dan Pemerintah Kalurahan Sambirejo dalam memperkenalkan potensi wisata daerah melalui pendekatan yang lebih interaktif. Berlangsung di kawasan Watu Payung, kegiatan ini menghadirkan perpaduan aktivitas wisata, kesenian, relaksasi, hingga ruang kebersamaan.

Watu Payung dipilih bukan sekadar sebagai lokasi untuk mendirikan tenda. Kawasan ini menjadi ruang bagi wisatawan untuk mengenal Sambirejo melalui pengalaman yang lebih langsung menikmati alam, berinteraksi dengan masyarakat, merasakan budaya, hingga membangun kebersamaan dengan sesama wisatawan.

Salah satu agenda utama dalam kegiatan ini adalah Saras Swara, sebuah pengalaman wisata budaya dan wellness yang memadukan praktik mindfulness dengan alunan instrumen gamelan, khususnya Gender. Sesi ini dipandu oleh instruktur Elsa Jane, sementara alunan Gender dimainkan oleh Mbah Jono. Perpaduan antara praktik mindfulness, musik gamelan, dan suasana alam Watu Payung mengajak peserta untuk sejenak memperlambat aktivitas, menikmati lingkungan sekitar, serta membangun kesadaran melalui pengalaman budaya yang lebih mendalam.

Camping Kalcer kemudian berlanjut dengan berbagai aktivitas yang membuka ruang interaksi dan kebersamaan. Peserta menikmati suasana Watu Payung sambil mengikuti rangkaian kegiatan, termasuk angkringan time, pertunjukan Welcome Dance, serta pengenalan Sambirejo Temple Trail 2026.

Memasuki malam hari, suasana Watu Payung berubah menjadi ruang kebersamaan yang lebih santai. Sesi jamming dan api unggun menjadi salah satu momen yang mempertemukan peserta dalam suasana informal. Musik, percakapan, dan kebersamaan menjadi bagian dari pengalaman camping yang tidak hanya berfokus pada aktivitas, tetapi juga pada perjumpaan antarmanusia.

 

Melalui rangkaian tersebut, Camping Kalcer menghadirkan cara lain dalam menikmati potensi wisata desa. Budaya tidak hanya ditampilkan sebagai pertunjukan yang dilihat dari kejauhan, sementara alam tidak hanya menjadi latar untuk berfoto. Keduanya menjadi bagian dari pengalaman yang dapat dirasakan dan diikuti secara langsung oleh pengunjung.

Bagi PPK Ormawa EDSA PBI UMY, Camping Kalcer juga menjadi bagian dari upaya pengembangan potensi wisata Sambirejo melalui kolaborasi dengan masyarakat. Pengembangan wisata tidak hanya berbicara mengenai menghadirkan destinasi atau kegiatan baru, tetapi juga tentang bagaimana potensi yang telah dimiliki masyarakat dapat dikemas menjadi pengalaman yang memiliki nilai dan relevansi bagi pengunjung.

Kolaborasi antara mahasiswa, masyarakat, pelaku budaya, dan Pemerintah Kalurahan Sambirejo menjadi bagian penting dalam proses tersebut. Kehadiran masyarakat lokal dalam pengalaman wisata memungkinkan pengunjung tidak hanya datang untuk menikmati tempat, tetapi juga mengenal cerita dan unsur budaya yang hidup di dalamnya.

Camping Kalcer menunjukkan bahwa pengembangan wisata desa dapat dilakukan dengan pendekatan yang lebih beragam. Potensi budaya dapat bertemu dengan konsep wellness, suasana alam dapat menjadi ruang untuk membangun kesadaran, sementara aktivitas camping dapat menjadi medium untuk menciptakan perjumpaan dan kebersamaan.

Melalui kegiatan ini, Watu Payung tidak hanya menjadi tempat untuk menikmati panorama atau menghabiskan malam di tengah alam. Kawasan tersebut menjadi ruang bertemunya berbagai pengalaman antara tradisi dan gaya hidup masa kini, antara alam dan aktivitas manusia, serta antara pengunjung dan kehidupan lokal Sambirejo.

Ke depan, pengalaman seperti ini membuka kemungkinan bagi Sambirejo untuk terus mengembangkan potensi wisatanya melalui pendekatan yang berangkat dari kekuatan lokal. Sebab, sebuah perjalanan tidak selalu meninggalkan kesan karena tempat yang dikunjungi, tetapi karena pengalaman yang dirasakan selama berada di sana.

Sebab, wisata bukan hanya tentang ke mana seseorang pergi, tetapi juga tentang apa yang mereka rasakan ketika berada di sana.

 

Camping Kalcer Beri Wajah Baru bagi Watu Payung: Budaya, Alam, dan Wellness Bertemu di Sambirejo